Hikmah di Balik Do’a yang Tidak Terkabul

Oleh Imam Ibnul Jauzi

Saya pernah terjatuh dalam kesusahan yang mendalam. Saya memperbanyak do’a sambil memohon agar dilepaskan dari cobaan itu. Ternyata, jawabannya sangatlah lambat. Mulailah jiwa saya gelisah. Akan tetapi, saat itu saya memperingatkannya.

“Celakalah engkau! Merenunglah! Apakah engkau hamba atau seorang yang merdeka dan beruat semaumu? Tidakkah engkau berfikir, engkaukah yang mengatur segalanya atau ada yang mengaturmu? Tidakkah engakau tahu bahwa dunia ini adalah tempat cobaan dan ujian? Jika engkau minta dipenuhi hasrat dan hajatmu, namun engkau tak mampu bersabar untuk tidak mendapatkan apa yang engkau inginkan, lalu dimana letak cobaan itu? Bukankah cobaan itu adalah kemungkinan tidak dikabulkannya suatu maksud dan tujuan?”

Pahamilah oleh Anda makna penugasan syariat kepada Anda, niscaya akan ringanlah yang berat dan akan mudah pulalah yang sulit menurut Anda. Tatkala jiwa saya merenungkan hal itu, ia sedikit tenang.

Saya katakan kepadanya kemudian, “Aku punya jawaban kedua. Engkau hanya mampu menuntut hak-hakmu dan tak pernah menggubris kewajibanmu, padahal itu merupakan tindakan yang bodoh. Engkau adalah hamba. Hamba yang cerdas dan berusaha menunaikan hak-hak tuannya. Ia tahu bahwa bukanlah kewajiban seorang tuan untuk memenuhi semua yang diinginkan hambanya.” Jiwa saya akhirnya semakin tenang.

Saya kembali berkata kepadanya, “Aku punya jawaban ketiga. Engkau mengnggap bahwa jawaban-jawaban bagi do’amu sangatlah lambat, padahal engkau sendiri menutup jalan terkabulnya do’a itu dengan pelbagai maksiat. Jika saja engkau buka kembali jalan itu, niscaya akan dipercepat jawaban bagi do’amu. Sepertinya engkau tak tahu bahwa ketenangan diperoleh dari takwa. Tidakkah engkau membaca dan mendengar firman Alloh SWT., “barang siapa yangbertakwa kepada Alloh, maka Dia akan membukakan baginya jalan keluar dan akan memberinya rezeki dari dengan tanpa disangka-sangka… Barang siapa yang bertakwa kepada Alloh maka Dia mudahkan mudahkan urusannya.” (Ath-Tholaq [65]: 2-4). Tidakkah engkau memeahami bahwa pahala yang engkau dapatkan selalu sesuai dengan apa yang engkau kerjakan? Celakalah mereka yang mabuk dan tenggelam dalam angan-angan yang terhalang dan tak tercapai.” Jiwa saya akhirnya mengetahui bahwa apa yang saya katakan adalah benar. Semakin tenanglah ia.

“Aku masih punya jawaban keempat. Engkau meminta harta yang engkau tahu akibat-akibatnya. Jika Dia mengabulkan, mungkin saja harta itu akan membahayakanmu. Engkau seperti anak kecil yang sakit panas namun meminta manisan, padahal Dzat yang mengaturmu itu lebih tahu apa yang terbaik bagimu. Bagaimana tidak, Dia sendiri yang berfirman, “Bisa sajaengakau benci sesuatu padahal itu baik bagimu.” (Al-Baqoroh [2]: 216).” Ketika telas jelas baginya apa yang saya sampaikan, semakin mantablah jiwa ini.

Saya pun mengakhiri nasehat saya. “Ini jawaban pamungkasku. Ketahuilah bahwa apa yang engkau minta akan mengurangi pahala dan ganjaranmu dan menurunkan derajatmu. Tatkala Dia tidak mengabulkan do’amu, hal itu tidak lain adalah sebuah pemberian yang sangat berharga dari-Nya untukmu. Jika engkau minta kepadanya apa yang terbaik untuk akhiratmu, maka yang demikian itu jauh lebih baik. Pahamilah kembali apa yang aku terangkan kepadamu.” Jiwa ini berbisik, “Aku sungguh merasa tenang dan damai.”


Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.